Jumat, 09 September 2011

METODE PEMERIKSAAN LABORATORIUM


1.       Pemeriksaan Hematologi
a.      Pemeriksaan dengan menggunakan alat “ABX Micros 60” dan “Sysmex KX 21”






                                             


                                       a                                                            b
Gamabar 2 : a. ABX SYSMEX KX21 dan b. ABX MICROS 60
Prinsip             : Berdasarkan spesifikasi ukuran sel yang melewati filter dengan memakai tegangan listrik untuk sekali pembacaan bisa diperiksa sekaligus beberapa parameter seperti Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, Eritrosit, MCH, MCHC, MCV dan Hitung Jenis Leukosit.
Cara Kerja dengan menggunakan alat ABX Micros 60 :
1)      Switch utama dinyalakan, terletak di belakang instrument.
2)      Setelah lampu indikator menyala, tekan tombol start up, maka secara otomatis alat akan melakukan pembilasan dan melakukan pemeriksaan reagen. Jika lolos maka alat akan menampilkan nilai nol untuk setiap parameter pemeriksaan dan jika tidak, maka secara otomatis alat akan melakukan pembilasan ulang dan pemeriksaan reagen sampai tiga kali sehingga didapatkan angka nol untuk setiap parameter pemeriksaannya.
3)      Tekan tombol start.
4)      Siapkan bahan pemeriksaan (darah EDTA).
5)      Tekan tombol ID dan masukkan nomor pasien, tekan tombol enter tunggu sampai jarum penghisap darah keluar.
6)      Tempelkan alat penghisap sampai dasar tabung kemudian tekan sampel bar sampai jarum masuk kembali dan melakukan pemeriksaan.
7)      Alat akan memproses sample selama satu menit dan hasil pemeriksaan akan tampak pada layar.
8)      Untuk mematikan alat, tekan stand by maka alat akan mencuci selama satu menit, setelah layar padam matikan alat  dengan menekan switch utama yang terletak di bagian belakang alat.

Cara kerja dengan menggunakan alat Sysmex KX 21 :
1)      Switch utama dinyalakan, terletak di samping kanan instrument.
2)      Setelah lampu indikator menyala maka secara otomatis alat akan melakukan start up sampai layar menampilkan tulisan ready.
3)      Siapkan bahan pemeriksaan (darah EDTA).
4)      Tempelkan alat penghisap sampai dasar tabung kemudian tekan sampel bar sampai jarum masuk kembali dan melakukan pemeriksaan.
5)      Alat akan memproses sample selama satu menit dan hasil pemeriksaan akan tampak pada layar dan dapat diprint.
6)      Untuk mematikan alat, tekan shutdown maka alat akan mencuci selama satu menit, setelah layar padam matikan alat  dengan menekan switch utama yang terletak di bagian samping kanan alat.


Nilai Normal         : a. Leukosit    : 4.000 – 10.000/mm³
: b. Eritrosit     : Laki-laki : 4,5–6,0 juta/mm³
                        :Perempuan: 4,0–5,5juta/mm³
                              : c. Trombosit  : 150.000 – 400.000/mm³
                              : d. Hematokrit : Laki-laki : 40 – 54%
                                                        : Perempuan : 37 – 47%
                              : d. Hb             : Laki-laki : 14 – 18 gr/dl
                                                      : Perempuan : 12 – 16 gr/dl
b.      Hematologi Manual
ü Hitung Jumlah Leukosit
Metode            : Pengenceran Turk
Prinsip             : Darah dicampur dengan larutan turk yang mengandung gentian violet 1% dalam air dan asam asetat glasial, maka sel selain sel leukosit akan lisis. Dengan pengenceran tertentu dan volume kamar hitung jumlah sel leukosit dapat diketahui.
Alat                 :
-          Tabung reaksi
-          Clinipette 10µl dan 100µl
-          Mikroskop
-          Bilik hitung Improve Neubauer.
-          Deck glass
Bahan              :
-          Larutan Turk
-          Darah
Cara Kerja       :
1)      Siapkan bilik hitung dan deck glass.
2)      Pipet reagen turk sebanyak 190µl masukkan kedalam tabung reaksi.
3)      Masukkan 10µl darah kedalam tabung tersebut, campur dan homogenkan.
4)      Masukkan sedikit larutan kedalam bilik hitung, tunggu beberapa saat (3 menit).
5)      Hitung dalam 4 kotak 1mm dengan mikroskop pembesaran lensa objektif 40x.
Selain cara manual dilakukan juga pemeriksaan secara full  automatic dengan menggunakan alat ABX Micros 60 dan Sysmex KX 21.

c.       Pemeriksaan Laju Endap Darah
Metode            : Westergreen
Prinsip             : Bila darah dicampur dengan antikoagulan Na Citrat 3,8% dan didiamkan pada suhu kamar, maka eritrosit akan mengendap ke dasar tabung dan pada bagian atas terdapat cairan plasma.








Gambar 3 : Alat pemeriksaan laju endap darah (LED)

Alat                 :
-          Tabung Westergreen
-          Rak Westergreen
-          Timer
-          Penopang tabung LED
Bahan              :
-          Darah
-          Na Citrat 3,8%.
Cara Kerja       :
1)      Masukan 0,2 ml larutan Na Citrat 3,8% kedalam tabung.
2)      Tambahkan 0,8 ml darah kedalam tabung tadi, kocok dan homogenkan.
3)      Isap darah tersebut ke dalam tabung westergreen sampai garis nol.
4)      Letakkan tabung tersebut pada rak westergreen, dengan posisi tegak lurus.
5)      Catat waktu mulai didiamkan.
6)      Lihat tinggi plasma dan buffy coat setelah satu jam dan dua jam.
Nilai Normal         : Laki-laki : 5 - 10 mm/jam
                                    : Wanita    : 8 - 20 mm/jam
d.   Pemeriksaan Waktu Pendarahan
Metode            : Duke
Prinsip             : Mengukur waktu yang dibutuhkan pembuluh darah dan sistem hemostasis untuk menghentikan pendarahan buatan.
Alat                 :
-          Blood lancet
-          Stopwatch
-          Autoklik
Bahan              :
-          Tissue
-          Kapas alkohol
Cara Kerja       :
1)      Bersihkan cuping telinga dengan kapas alkohol 70%.
2)      Kemudian tusuk dengan lancet.
3)      Isap dengan tissue darah yang keluar setiap 15 detik sekali.
4)      Catat mulai waktu darah keluar sampai darah berhenti.
Nilai Normal : 1-3 menit
http://www.medicine.mcgill.ca/physio/vlab/bloodlab/images/bleedtime.GIF







Gambar 4 : Pemeriksaan bleeding time test

e.    Pemeriksaan Waktu Pembekuan
Metode            : Slide
Prinsip             : Mengukur waktu yang diperlukan oleh darah untuk menggumpal setelah darah keluar dari pembuluh darah.
Alat                 :
-          Spuit
-          Stopwatch
-          Objek glass
-          Lidi
Bahan              :
-          Kapas alcohol
-          Sampel
Cara Kerja       :
1)      Diambil darah dari vena.
2)      Dijalankan Stopwatch.
3)      Diteteskan darah pada objek glass, lalu setiap 30 detik sekali diangkat dengan lidi dan hentikan stopwatch setelah terbentuk fibrin
Nilai Normal : 3-7 menit 

f.    Pemeriksaan Golongan Darah
Mbar Metode : Slide
Prinsip             : Antigen + antibodi                 aglutinasi
Alat                 : Objek glass dan batang lidi.
Bahan              : Darah, Anti A, B, AB, dan D (Rhesus).









Gambar 5 : Pemeriksaan golongan darah
Cara Kerja       :
1)      Siapkan kartu Golongan Darah.
2)      Teteskan masing-masing anti A, B, AB dan D diatas kartu tersebut.
3)      Tambahkan darah diatasnya, aduk dan goyangkan.
4)      Baca ada tidaknya aglutinasi.
  
g.   Pemeriksaan Hitung Jenis (Diff Count)
Metode            : Giemsa
Prinsip             : Inti bersifat asam dan sitoplasma bersifat basa. Zat warna basa akan mewarnai bagian sel yang bersifat asam, yaitu kromatin dan DNA, zat warna asam akan mewarnai sel yang bersifat basa, yaitu sitoplasma.
Alat                 :
-          Mikroskop
-          Objek glass
Bahan              :
-          Darah
-          Larutan giemsa
-          Methanol absolute dan buffer.
Cara Kerja       :
1)      Buat apusan darah, biarkan kering.
2)      Fiksasi apusan tadi dengan methanol absolute selama 3 menit.
3)      Buang larutan tadi, tambahkan giemsa + buffer 1:4 selama 20 menit.
4)      Buang kelebihannya, cuci dengan air mengalir dan keringkan diudara.
5)      Baca dengan mikroskop pembesaran lensa objektif 100x dengan memakai minyak imersi.
Nilai Normal         : Basofil                       : 0-1 %
                                      Eosinofil                    : 1-4 %
                                      Netrofil Batang         : 3-5 %
                                      Netrofil Segmen        : 35-70 %
                                      Limfosit                    : 20-40 %
                                      Monosit                     : 2-10 %

h.   Hitung Retikulosit
Metoda                        : Brilliant Cresol Blue (BCB)
Prinsip             : Dengan pewarnaan BCB  granula filamentosa didalam retikulosit akan terwarnai.
Alat                 :
-        Mikropipet 1000 µl dan 100 µl
-        Tabung reaksi
-        Mikroskop
Bahan              :
-        Sampel darah
-        Larutan BCB
Cara Kerja :
1)        Dimasukkan 1 mL BCB  ke dalam tabung.
2)        Ditambah 100 µl darah vena, diamkan selama 15 menit pada suhu kamar.
3)        Dari campuran tersebut dibuat preparat hapus pada objek glass.
4)        Dikeringkan di udara terbuka.
5)        Periksa di bawah mikroskop dengan objektif 100x, dihitung dalam 1000 eritrosit
Nilai normal :  2 – 20 0/00   atau  0,2 – 2 %

i.     Hitung Eosinofil
Metoda      :  Von Dungeren
Prinsip      :  Darah ditambah reagen von Dungeren maka sel-sel lain akan lisis  sedangkan eosinofil akan terwarnai sehingga dapat dihitung.
Alat                 :
-       Kamar hitung
-       Pipet Thoma leukosit
-       Kaca penutup
Bahan              :
-       Reagen Von Dungeren
-       Sampel darah EDTA
Cara kerja        :
1)      Isap larutan Von Dungeren menggunakan pipet Thoma sampai tanda batas 1,  kemudian isap sampel sampai tanda 11.
2)       Kocok homogen, masukkan ke dalam kamar hitung.
3)      Periksa di bawah mikroskop dengan objektif 40 x.
4)      Hitung di seluruh kotak berukuran 3 x 3 mm.
Perhitungan :
Luas kamar hitung      : 3 x 3 mm = 9 mm2
Volume                       : 9 x 1/10 mm = 9/10 mm3
Jumlah dalam 1 mm3  = 10/9 x pengenceran (10/9) x pendapatan
Nilai normal                 : 40 – 400 sel/mm3

2.   Pemeriksaan Kimia Klinik
        Seiring dengan adanya kemajuan alat dan teknologi canggih, Laboratorium RS Muhammadiyah Bandung menggunakan Auto Analyzer “Horiba ABX Pentra 400” yang digunakan untuk memeriksa parameter pemeriksaan kimia klinik. Alat ini mampu menganalisa 420 jenis pemeriksaan kimia darah dalam waktu 1 jam, sehingga alat ini digolongkan ke dalam alat canggih. Di antara parameter pemeriksaan itu adalah:


-       Albumin                                                 
-       ALP
-       Total Protein                                           
-       ALT (SGPT)
-       AST (SGOT)
-       Trigliserida     
-       Asam Urat                                        
-       GGT
-       Ureum                                              
-        LDH
-       Kreatinin                              
-       CKMB
-       Glukosa                                 
-       Amylase
-       Lipase
-       Cholesterol                                            
-       HDL Cholesterol                          
-       LDL Cholesterol                                
-       Bilirubin Total                                         
-       Bilirubin Direk                                      
-       Protein spesifik
-       Magnesium
-       Natrium
-       Kalium
-    Chlorida
-    Calsium



Prinsip Kerja Alat Pentra-400 :
Cahaya putih dari lampu halogen tungsten ditangkap oleh lensa kondensor pertama, kemudian mengalami pemantulan dari cermin pantul dan dipertajam oleh lensa kondensor kedua, selanjutnya cahaya akan melalui kuvet dan berinteraksi dengan campuran reagensia dan bahan pemeriksaan yang telah selesai bereaksi. Cahaya yang diteruskan dari kuvet tersebut diarahkan dan dipusatkan oleh lensa kondensor ketiga kemudian ditangkap oleh sejenis cermin cekung reflective grating spreads menjadi cahaya monokromatik dan merefleksikannya pada detektor PDA (Pixel Digital Analogical)













Gambar 5 : Alat pemeriksaan kimia kelinik “Horiba ABX Pentra 400
Reagensia:
a.          Unit pendingin : larutan glycol ( NH4Cl=ammonium chlorida).
b.         Air pencuci : air steril pasokan khusus.
c.          Reagensia khusus autoanalizer produk Horiba ABX.
d.         Reagensia modul ISE (bila digunakan).

Alur analisa:
1)        Persiapan (bahan pemeriksaan, reagensia, kuvet, glycol, air destilasi, kalibrator dan kontrol)
2)        Pemrograman parameter pemeriksaan.
3)        Pemrograman data-data serum kontrol dan kalibrator.
a.    Nomor bacth.
b.     Expire date.
c.     Nilai – nilai target.
4)        Melaksanakan kalibrasi dan kontrol, bila sudah tekan “OK”
5)         Pemeriksaan bahan pemeriksaan.
6)         Print out hasil.
Interpretasi hasil:
a.         Bila kalibrator dan kontrol serum tidak memenuhi nilai targetnya, maka pemeriksaan tidak dapat dilakukan.
b.         Bila hasil terlalu tinggi kadarnya dibandingkan dengan nilai kalibrator, maka alat akan secara otomatis mengencerkan bahan pemeriksaannya.
c.         Bila kualitas bahan pemeriksaan kurang baik, alat akan menginformasikannya dan tidak melakukan pemeriksaan yang diminta.
d.        Nilai yang nilainya terlalu tinggi atau rendah dari nilai rujukan akan diberi tanda bintang.

Prosedur  menjalankan “Horiba ABX Pentra 400” :
a.       Cek kondisi dari :
-     Air pada Reservoir Bottle, apabila kurang tambahkan air.
-     Waste Container, apabila sudah penuh kosongkan kontainer.
-     Kuvet baru, apabila kurang tambahkan kuvet baru pada tempatnya.
-     Kuvet bekas, apabila penuh kosongkan tempat kuvet bekas.
-     Ketersediaan kertas yang ada pada printer.
b.      Nyalakan ABX Pentra 400 dengan cara :
-     Manual        :Tekan tombol hitam yang ada pada bagian kanan alat.
-     Otomatis     : Apabila alat telah diprogram untuk dihidupkan secara otomatis, maka alat akan langsung hidup sesuai dengan jam yang diprogram.
c.       Tunggu alat melakukan proses inisialisasi, setelah selesai pilih Nama Operator (user name) dan masukkan password. Pilih juga New Worklist untuk memulai dengan worklist  baru. Kemudian tekan OK.
d.      Tunggu alat melakukan proses Start Up sampai alat menunjukkan ready.
e.       Dari main menu cek status dari reagen yang ada pada reagen tray. Cek dan segera ganti reagen yang ditunjukkan dengan warna merah. Apabila status reagen menunjukkan warna oranye berarti sisa reagen hanya cukup untuk beberapa pemeriksaan saja sehingga harus disiapkan reagen backup.
f.       Lakukan kontrol dan kalibrasi (jika perlu) dari reagen-reagen yang akan digunakan. Letakkan kontrol dan kalibrator di tempat yang telah ditentukan (kontrol di rak berwarna hijau, kalibrator di rak berwarna kuning).
g.      Cara melakukan kalibrasi yaitu dari main menu pilih Worklist, kemudian pilih Calibration, setelah itu tekan tanda (+) dan pilih Calibration expired only, kemudian di layar ditampilkan pemeriksaan apa saja yang harus dikalibrasi pada waktu tersebut. Tekan tombol OK.
h.      Apabila hasil dari kontrol dan kalibrasi telah sesuai dengan batas yang ditentukan (valid)  maka alat siap untuk digunakan.
i.        Apabila alat telah selesai mengerjakan sampel dan akan dimatikan, tekan tombol Exit. Setelah itu pilih menu Shutdown dengan meminta System Cleaning, setelah itu tekan OK.
j.        Biarkan alat melakukan proses pencucian kemudian bagian alat untuk pemeriksaan akan mati tetapi power utama tetap nyala (tombol power tidak dimatikan) untuk menjaga kestabilan suhu reagen.

Prinsip Pemeriksaan Kimia Klinik :
1)      Gula Darah
Metoda        :  GOD – PAP
Prinsip         :  Glukosa akan dioksidasi dengan adanya enzim glukosa oksidase membentuk suatu asam glukonat dan peroksida. Peroksida yang terbentuk  direaksikan dengan 4 amino-antypyrine dan asam hidroksi benzoic, dengan adanya peroksidase membentuk senyawa kompleks yang berwarna.Intensitas warna merah yang terbentuk sebanding dengan kadar glukosa dalam sampel.
Nilai normal  :  70 – 125 mg/dl

2)      Protein Total
Metoda         :  Biuret
Prinsip      :  Protein bereaksi dengan cupri  membentuk senyawa kompleks berwarna biru. Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan kadar protein total dalam sampel.
Nilai normal :  6,6 – 8,8 g/dl

3)      Albumin
Metoda       :   Brom Cresol Green (BCG)
Prinsip        :   Albumin dengan  BCG  dalam buffer sitrat dan suasana  asam pH 4,2 akan membentuk kompleks warna hijau biru, intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi albumin dalam sampel.
Nilai normal :  3,5 – 6,0 g/dl

4)      Globulin
Kadar globulin didapat dari pengurangan kadar total protein dengan albumin.
Perhitungan  :  Globulin =  Total Protein – Albumin
Nilai normal   :  2,0 – 3,0 g/dl

5)      Kolesterol Total

Metoda       :  CHOD – PAP (Kolorimetrik Enzimatik)
Prinsip        :  Ester kolesterol dengan adanya enzim kolesterol esterase  diubah  menjadi kolesterol dan asam amino bebas. Kolesterol yang terbentuk dioksidasi dengan bantuan enzim kolesterol oksidase membentuk kolestenon dan hydrogen peroksida. Hydrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan DSBmT (disulphobutyl-m-toluidin disodium) dan 4-amino antipyrin dengan bantuan enzim peroksidase membentuk quinonimin yang berwarna merah muda. Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi kolesterol total.
Nilai normal  :  < 200 mg/dl

6)      Trigliserida
Metoda        :  GPO – PAP
Prinsip         : Trigliserida oleh enzim lipoprotein lipase dirubah menjadi gliserol dan asam amino bebas. Gliserol yang terbentuk direaksikan dengan ATP dengan bantuan enzim gliserol kinase membentuk gliserol-3-phospat dan ADP. Gliserol-3-phospat dioksidasi dengan bantun enzim gliserol phospat oksidase menjadi dihidroksi aseton phospat dan hydrogen peroksida. Hidrogen peroksida yang terbentuk akan mengoksidasi klorophenol membentuk quinonimin yang berwarna merah muda. Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan kadar trigliserida dalam sampel.
Nilai normal  : < 150 mg/dl

7)      HDL – Cholesterol
Metoda        :  CHOD – PAP
Prinsip    :  LDL, VLDL dan chylomykron  dalam sampel akan dinonreaktifkan dengan penambahan detergent khusus, berupa accelerator dan cholesterol oksidase sehingga hanya HDL yang reaktif. Kemudian HDL ini diperiksa dengan metoda CHOD-PAP.
Nilai normal  :
Pria               :  30 – 70 mg/dl
Wanita          :  30 – 85 mg/dl

8)      LDL – Cholesterol
Metoda         :  CHOD – PAP
Prinsip          :  LDL–Cholesterol  ditentukan secara langsung dalam dua tahap pemeriksaan. Tahap pertama adalah mengeluarkan fraksi lain selain  LDL, kemudian pada tahap kedua LDL direaksikan dengan bantuan enzim cholesterol oksidase dan cholesterol esterase menjadi senyawa tidak berwarna yang dengan penambahan kromogen berubah menjadi senyawa komplek berwarna sehingga dapat diukur.
Nilai normal  :  < 130 mg/dl

9)      CKMB
Metoda        :  Kinetik optimasi
Prinsip          :  CK-MB terdiri dari 2 sub unit CK–M dan CK–B, dimana sub unit CK–M dihambat oleh antibodi spesifik dan hanya aktivitas sub unit CK-B yang setara dengan setengah aktivitas iso enzim MB yang diperiksa dengan cara  kinetik enzimatik. Creatin phosphat dan ADP dengan adanaya enzim creatin kinase akan berubah menjadi creatin dan ATP, dimana ATP ini bersama glukosa oleh enzim heksokinase diubah menjadi glukosa-6-phosphat dan ADP. Glukosa-6-phosphat bersama NADP oleh enzim G-6-P-DH akan diubah menjadi gluconat-6-phosphat dan NADPH. Aktivitas CK-B sebanding dengan perubahan NADP. Hasil yang terukur kemudian dikonversikan dengan CKMB.
Nilai Normal :  <  24 U/L

10)  LDH
Metoda      :  Kinetik IFCC
Prinsip     :  Piruvat dan NADH dengan adanya enzim LDH  bereaksi  menjadi laktat dan NAD. Aktivitas LDH ditentukan dengan cara mengukur penurunan konsentrasi NADH.
Nilai Normal  :  < 480 U/L

11)  SGOT / AST
Metoda       :   Kinetik IFCC
Prinsip        : L-aspartat dan 2-oxoglutarat dengan bantuan enzim ASAT akan menjadi oksaloasetat dan L-glutamat. Oksaloasetat yang terbentuk akan mereduksi NADH dengan bantuan enzim malat dehidrogenase (MDH) menjadi L-Malat dan NAD+. Aktivitas katalitik ASAT ditentukan dengan mengukur penurunan absorban.
Nilai normal :  Pria         :   35 U/L
                                          Wanita    :   31 U/L

12)  SGPT / ALT
Metoda      :   Kinetik UV IFCC
Prinsip       : L-alanin direaksikan dengan 2-oxoglutarat dengan bantuan enzim ALT membentuk L–glutamate  dan piruvat. Piruvat yang terbentuk akan mereduksi NADH dengan bantuan enzim laktat dehidrogenase (LDH) membentuk L-laktat dan NAD+. Aktivitas katalitik ALT ditentukan dengan mengukur penurunan absorban.
Nilai normal :  Pria         :  ≤ 45 U/L
                                           Wanita    :  ≤ 34 U/L

13)  Alkali Phosphatase
Metoda        :  Kinetik IFCC
Prinsip      :  Alkali Phosphatase akan menghidrolisis p-nitrophenyl phosphat menjadi p-nitrophenol dan phosphat. Aktivitas ALP ditentukan dengan mengukur p-nitrophenol  secara kinetik pada λ 405 nm.
Nilai normal :  Pria        :  35 - 104 U/L
                                          Wanita   :  40 - 120 U/L

14)  Bilirubin Total
Metoda        :  DCA (Dichloro anilin)
Prinsip         :  Bilirubin total bereaksi dengan dichloro anilin pada suasana alkali membentuk senyawa diazo (2,4 dichloro-anilin diazo) yang berwarna biru hijau. Intensitas warna yang terbentuk setara dengan konsentrasi bilirubin total dalam serum.
Nilai normal :  0,1 – 1,2 mg/dl

15)  Bilirubin Direk
Metoda        :  DCA (Dichloro anilin)
Prinsip         :  Bilirubin  direk  bereaksi  dengan  dichloro  anilin  pada  suasana asam membentuk senyawa diazo yang berwarna merah.
Nilai Normal :  0,1 – 0,2 mg/dl

16)  Bilirubin Indirek
Kadar bilirubin indirek diperoleh dari pengurangan kadar bilirubin total dengan bilirubin direk.
Perhitungan :   Bilirubin Indirek  =  Bilirubin total – bilirubin direk
Nilai Normal  :   0,2 – 0,7 mg/dl

17)  Ureum
Metoda         :  Urease GLDH
Prinsip          : Urease  akan  menghidrolisis  urea menjadi  ion ammonium dan bikarbonat. Ammonium yang terbentuk akan bereaksi dengan oxoglutarat dan NADH. Kemudian dengan bantuan enzym GLDH, oxoglutarat akan menjadi glutamat yang disertai perubahan NADH menjadi NAD. Penurunan konsentrasi NADH sebanding dengan konsentrasi ureum dalam sampel.
Nilai Normal :  10 – 15 mg/dl

18)  Kreatinin
Metoda              :  Jaffe Reaction (fixed time)
Prinsip         :  Kreatinin akan bereaksi dengan asam pikrat dalam suasana alkali membentuk senyawa kompleks yang berwarna kuning jingga dengan salisilat dan klorida. Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan kadar kreatinin dalam darah.
Nilai normal :  Pria        :  0,73 – 1,36 mg/dl
                                          Wanita   :  0,57 – 1,13 mg/dl
19)  Asam Urat
Metoda        :  Uricase (modifikasi Trinder)
Prinsip         : Asam urat  dioksidasi  enzim  uricase membentuk alantoin, CO2 dan peroksida. Dengan bantuan enzim peroksidase, peroksida yang terbentuk akan bereaksi dengan 4-aminoantipyrine dan 3,5- diclorosulphonate membentuk senyawa yang berwarna merah muda.
Nilai normal :  Pria         :  3,4 – 7,0 mg/dl
                                          Wanita    :  2,3 – 6,1 mg/dl
20)  Amilase
Metoda             :  Kinetik Enzimatik
Prinsip              :Substrat(4,6-ethylidene-p-nitrophenyl-α-D-maltoheptaoside) akan diuraikan oleh enzim α-amylase dimana hasilnya berupa oligosakarida akan dihidrolisa oleh α-glukosidase menghasilkan glukosa dan p-nitrophenol. Peningkatan  p–nitrophenol sebanding dengan aktivitas α- amylase dalam sampel.
Nilai Normal :  < 100 U/L

21)  Lipase
Metoda        :  Enzymatik photometrik
Prinsip         : 1-2-o-dilauryl-rac-glycero-3-glutamic acid (6-methylresorufin) ester  ditambahkan pada suatu micro-emulsion yang akan dipecah oleh lipase menjadi co-lipase dan bile acid. Kombinasi co-lipase, bile acid dan substrat akan mengalami penguraian oleh enzim lipolitik dan esterase sehingga menghasilkan methylresorufin ester yang dengan cepat terdegradasi menjadi methylresorufin yang berwarna. Intensitas warna ini sebanding dengan aktivitas lipase dalam sampel.
Nilai Normal :  < 90 U/L

22)  Calsium
Metoda        :  OCP (Ortho Cresol Pthalein)
Prinsip         :  Pada suasana alkali, calsium dalam serum akan bereaksi dengan  cresolpthalein membentuk senyawa kompleks berwarna violet. Ion Mg2+ yang mengganggu dapat diatasi dengan penambahan 8- hidroquinolein.
Nilai Normal :  8,6 – 10,3 mg/dl
            Selain pemeriksaan di atas yang menggunakan alat Pentra 400 ada pemeriksaan lain yang dilakukan dengan alat-alat selain Pentra 400 yaitu:
23)  Kalium, Natrium dan Klorida
Alat                  :  Easylite
Metoda             :  ISE
Prinsip         :  Kalium, Natrium  dan  Klorida  akan  ditarik  oleh  elektroda yang sensitif terhadap ion-ion tersebut. Kemudian digunakan elektroda reference untuk membandingkan naik turunnya potensial.

Gambar 6 : Alat pemeriksaan Natrium, Kalium dan Chlorida. “Easylite”.
Cara Kerja :
a.       Alat dinyalakan dan dilakukan kalibrasi.
b.      Ambil sampel sebanyak 100 µl.
c.       Bila pada alat sudah tertera “Analizing Blood”  tekan tombol “Yes”.
d.      Sampel akan dihisap oleh aspirator, tunggu hasil selama 1 menit. Hasil akan muncul pada layar dan langsung diprint.
Nilai Normal  : 
Na           :  135 – 155 mmol/l
                       K            :   3,6 – 5,5 mmol/l
                      Cl            :   96 – 108 mmol/l

24)  Pemeriksaan Gula Darah dengan Glukometer
Metoda      :  Amperometri
Prinsip   : Glukosa dalam sampel darah dengan adanya enzim glucose dehidrogenase akan dirubah menjadi gluconolactone yang akan mengoksidasi potasium ferrycianyde pada strip menghasilkan potassium ferrocyanide yang sebanding dengan konsentrasi glukosa pada sampel. Proses oksidasi  menghasilkan arus listrik yang kemudian diolah oleh meter untuk menampilkan konsentrasi glukosa.
Cara Kerja :
a)    Hidupkan alat dengan cara memasukkan strip glukosa sampai muncul gambar tetesan darah.
b)   Diambil darah kapiler dengan menggunakan “autoclik”, tetesan pertama diusap dengan kapas kering.
c)    Diteteskan darah pada ujung strip sampai darahnya terhisap dan terdengar bunyi “beep”.
d)   Ditunggu hasil dalam waktu 30 detik.
e)    Dilihat hasil pemeriksaan pada layar.
Nilai normal :
GDS (Gula Darah Sewaktu)            =  < 160 mg/dl
GDN (Gula Darah Nuchter)            =  70 – 110 mg/dl
GDPP (Gula Darah Post Prandial) =  70 – 126 mg/dl

25)  Troponin I
Metoda       :  Rapid
Prinsip    : Merupakan suatu immunoassay sandwich test. Ketika sampel diteteskan pada tempat sampel akan berikatan dengan partikel yang dilapisi anti Troponin I membentuk komplek antigen-antibodi. Kemudian komplek ini akan bermigrasi melalui membran dengan daya kapiler dan bereaksi dengan anti Troponin I yang dilekatkan pada membran sehingga ikatan ini akan menimbulkan garis berwarna merah.
Cara kerja  :
a)      Siapkan reagen rapid tes Troponin I, simpan di tempat mendatar.
b)      Teteskan 3 tetes atau 100 µl serum.
c)      Simpan selama 15 menit, amati reaksi yang terjadi.
Interpretasi hasil :
Negatif  :  hanya terdapat satu garis di area kontrol saja
Positif   :  terdapat dua garis di area tes dan kontrol

26)  BJ Plasma
Metoda       :  Refraktometri
Prinsip      :  Kandungan zat  di dalam  plasma  akan  membuat  sudut  refraksi yang diukur melalui alat yang ditunjukkan dengan skala.
Alat dan bahan :
-          Refraktometer
-          Mikropipet 100 µl
-          Sampel darah sitrat
-          Aquadest
Cara kerja :
a)  Siapkan alat refraktometer
b)  Kalibrasi dengan aquadest
c) Teteskan 100 µl sampel pada area tes, baca BJ nya pada skala yang  tersedia.
Nilai normal : 1.020 – 1.030 

3.      Pemeriksaan Klinik Rutin
a.      Pemeriksaan Urine Rutin dengan Menggunakan Carik Celup
[Urinalisis+procedure.jpg]








               Gambar 7 : Pemeriksaan urin menggunakan carik celup

Bahan dalam urin yang dapat dideteksi oleh carik celup  adalah :
1)      Berat Jenis
2)      pH
3)      Protein
4)      Reduksi
5)      Urobilin
6)      Bilirubin
7)      Eritrosit
8)      Nitrit
9)      Keton
10)  Leukosit
11)  Blood


Prinsip                   :
1)      Berat Jenis       : Zat-zat ionic dalam urin bereaksi dengan brom thymol blue membentuk kompleks warna hijau.
2)      pH                   : Indikator methyl red dan brom thymol blue menyebabkan terjadinya perubahan warna dari orange, hijau menjadi biru pada urine dengan jarak pH 5-9.
3)      Protein             : 3,3,3,5-tetraklorofenol-3,4,5,6-tetra brom sulfalein dalam suatu sistem buffer yang mempertahankan pH konstan, yang bereaksi dengan protein menjadi suatu warna hijau muda sampai hijau tua.
4)      Reduksi           : o-glukosa secara enzimatik dioksidasi menjadi d-glukonolaktor. Dengan adanya peroksidase yang dihasilkan pada reduksi ini kemudian mengoksidasi indikator membentuk kompleks warna.
5)      Urobilin           : Garam diazonium yang stabil (4-metoksi benzendiazonium flouroborat) bereaksi segera dengan urobilinogen dalam suasana asam dan tes memberi warna merah.
6)      Bilirubin          : Bilirubin bereaksi dengan garam diozonium yang stabil (2,6-dikloro benzene-diazonium fluoro borat) dalam suasana asam membentuk warna violet azo.
7)      Eritrosit           : Tes ini didasarkan pada fungsi hemoglobin dan mioglobin yang mengkatalisasikan oksidasi dari indicator warna oleh hidroferoksid organik (2,5-dihidroperoksi hekson) menjadi zat warna biru.
8)      Nitrit               : Sulfanilomid aromatik, 3-hidroksi-1,2,3,4 tetra hidro benzokuinolin dan asam tartat, merupakan reagen-reagen yang terdapat dalam kertas tes yang dapat bereaksi dengan nitrit menghasilkan zat warna azo. Intensitas zat warna azo tersebut menjadi ukuran dari konsentrasi nitrit dalam urine tetapi tidak menyatakan berat ringannya suatu penyakit.
9)      Keton              : Asam aseto asetat dan aseton bereaksi dengan nitroprusid dan glisin dalam suasana alkalis menjadi suatu kompleks warna violet.
10)   Leukosit         : Asam karbonat ester oleh esterase yang terdapat pada granulosit akan membentuk indoxyl. Indoxyl dioksidasi membentuk senyawa yang berwarna indigo.
Cara Kerja Carik Celup     :
1)      Basahi seluruh permukaan reagen carik celup dengan sampel urine dan tarik carik dengan segera, kelebihan urine diketukkan pada bagian bibir wadah urine.
2)      Kelebihan urine pada bagian belakang carik dihilangkan dengan cara menyimpan carik tersebut pada tissue agar menyerap urine dibagian tersebut.
3)      Peganglah carik secara horizontal dan bandingkan dengan standar warna yang terdapat pada lebel wadah carik celup dan catat hasilnya dengan waktu seperti yang tertera pada standar carik atau dibaca dengan alat lain.

b.      Pemeriksaan Urine Konfirmasi
1)      Reduksi Urine
Metode      : Benedict
Prinsip       : Glukosa akan mereduksi CuSO4 dalam suasana basa kuat dan panas, membentuk Cu2O yang mengendap dan berwarna kuning sampai merah bata sebanding dengan kadar glukosa dalam urine.
Cara kerja  :
a)      Masukkan 0,5 ml urine ke dalam tabung reaksi
b)      Tambahkan 5 ml pereaksi benedict
c)      Campurkan sampai homogen dan panaskan dalam waterbath mendidih selama 5 menit
d)     Angkat dan simpan pada rak dan dinginkan
e)      Amati perubahan yang terjadi dan tentukan hasilnya
f)       Interpretasi hasil          :
Negatif                        : cairan biru jernih
Positif 1           : cairan hijau dengan endapan kuning
Positif 2           : cairan bening dengan endapan kuning banyak
Positif 3           : cairan bening dengan endapan orange
Positif 4           : cairan bening dengan endapan merah bata

2)      Protein Urine
Metode      : Asam Asetat
Prinsip       : Protein dalam urine akan membentuk kekeruhan atau gumpalan oleh asam karena mendekati titik isoelektrik protein dibantu dengan pemanasan, sehingga terbentuk kekeruhan, butiran, kepingan, atau gumpalan sesuai dengan banyaknya kandungan protein dalam urine.
Cara Kerja :
a)      Masukkan 5 ml urine ke dalam tabung reaksi
b)      Didihkan selama 1-2 menit
c)      Kekeruhan yang terjadi dapat disebabkan oleh fosfat, karbonat atau albumin
d)     Tambahkan 3 tetes asam asetat 10% tetes demi tetes dalam keadaan mendidih. Kekeruhan yang disebabkan oleh karbonat dan fosfat akan hilang.
e)      Interpretasi hasil          :
Negatif                        : tidak ada kekeruhan
Positif 1           : kekeruhan sedikit sekali
Posirif 2           : kekeruhan jelas berbutir
Positif 3           : kekeruhan hebat berkeping-keping
Positif 4           : menggumpal

3)      Bilirubin
Metode      : Iodium
Prinsip       : Bilirubin dalam urine akan bereaksi dengan larutan iodium menghasilkan biliverdin yang berwarna hijau.
Cara kerja  :
a)      Masukkan 5ml urine ke dalam tabung reaksi.
b)      Tambahkan larutan iodium ke dinding tabung.
c)      Amati perubahan warna yang terjadi pada cahaya terang.
d)     Positif bila terdapat warna fluoresensi hijau.

c.       Pemeriksaan sedimen urine meliputi :
1)      Unsur organik, yaitu : Eritrosit, leukosit, silinder, dan epitel
2)      Unsur anorganik, yaitu : Kristal dan amorf
Alat                 :
-            Tabung sentrifuge
-            Sentrifuge
-            Objek glass
-            Deck glass
-            Mikroskop
Prinsip             : Berat jenis unsur-unsur sedimen organik dan anorganik lebih besar dari pada berat jenis urine, sehingga dengan sentrifuge maka zat-zat tersebut akan mengendap.
Cara Kerja       :
1)      Masukkan urine ke dalam tabung centrifuge dan putar selama 5 menit dengan kecepatan 1500 rpm, buang supernatannya.
2)      Teteskan endapannya ke bagian atas objek glass.
3)      Tutup dengan deck glass.
4)      Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 40x.

d.      Pemeriksaan Tes Kehamilan
1) Tes Kehamilan “Test Pack”
Metoda    :  Immunocromatography Sandwich Assay
Prinsip   : Urine wanita hamil mengandung α dan β HCG (monoclonal HCG lengkap). Pada sample well terdapat anti α HCG. Dibagian vertical mengandung anti β HCG, sedangkan pada bagian horizontal mengandung anti β HCG dan monoclonal HCG lengkap (α dan β HCG).
Jika urine wanita hamil diteteskan pada sample well, maka monoclonal HCG lengkap dan anti α HCG (di bagian vertical) dan anti HCG yang berlebih akan berikatan dengan  monoclonal HCG lengkap dan β HCG (di bagian horizontal). Bila ikatan tersebut telah membentuk ikatan sandwich, maka akan terlihat tanda positif.
Alat dan Bahan :
-          Reagen kit Test Pack
-          Pipet tetes untuk urine
-          Sampel urine
Cara Kerja :
a)      Diteteskan urine pada tempat sampel sebanyak 3 tetes.
b)      Ditunggu sampai hasil keluar dan baca hasil bila pada jendela kontrol sudah timbul warna merah muda.
2) Kehamilan Strip
     Metoda    :  Immunocromatography Sandwich Assay
Prinsip   :  Urine wanita hamil mengandung α dan β HCG    (monoclonal HCG lengkap). Pada area sampel terdapat anti α HCG. Di area tes mengandung anti β HCG, sedangkan pada area kontrol mengandung anti β HCG dan monoclonal HCG lengkap (α dan β HCG).
                             Jika strip urine dicelupkan pada urine wanita hamil, maka monoclonal HCG lengkap dalam urine akan bereaksi dengan anti α HCG (di area tes) dan anti HCG yang berlebih akan berikatan dengan  monoclonal HCG lengkap dan β HCG (di area kontrol). Bila ikatan tersebut telah membentuk ikatan sandwich, maka akan terlihat tanda garis merah.
Cara Kerja :
a)      Dicelupkan strip tes kehamilan ke dalam sampel urine, jangan melewati tanda batas.
b)      Ditunggu beberapa saat sampai timbul garis berwarna merah.
Interpretasi hasil:
Hasil negatif   :  jika terbentuk satu garis di area kontrol
Hasil positif    :  jika terbentuk dua garis di area tes dan kontrol

e.       Pemeriksaan Narkoba
1) Amphetamin
                        Metoda    :  Rapid
Prinsip    :  Prinsip dasar adalah immunoassay chromatography dengan ikatan kompetensi. Amphetamin yang terdapat pada sampel urine akan bereaksi dengan anti amphetamin pada area sampel dan terjadi netralisasi. Cairan urine  akan terus bermigrasi melalui membran menuju area tes yang berisi anti amphetamin dan konjugat dimana karena sudah tidak ada amphetamin bebas maka pada area tes tidak akan terjadi reaksi sehingga tidak timbul garis berwarna.
Jika tidak terdapat amphetamin di dalam sampel maka anti amphetamin pada area sampel tidak akan ternetralisasi dan ikut bermigrasi ke area tes sehingga terbentuk ikatan komplek anti amphetamin-konjugat yang menimbulkan garis berwarna merah keunguan.
Pada area kontrol terdapat anti amphetamin yang akan bereaksi dengan konjugat sehingga terbentuk garis berwarna merah keunguan.
Alat dan bahan  :
-        Sampel urine
-        Pipet tetes
-        Reagen rapid amphetamin
Cara kerja        :
a)    Buka kemasan rapid tes, simpan di tempat datar.
b)    Teteskan 3 tetes urine pada area sampel.
c)    Tunggu selama 10 menit, kemudian amati reaksi yang terjadi.
Interpretasi hasil  :
                        Negatif   :   jika timbul 2 garis di area tes dan kontrol
                        Positif    :   jika timbul 1 garis di area kontrol saja

2) Cannabis
                        Metoda  :  Rapid
Prinsip :  Prinsip dasar adalah immunoassay chromatography dengan ikatan kompetensi. Cannabis yang terdapat pada sampel urine akan bereaksi dengan anti amphetamin pada area sampel dan terjadi netralisasi. Cairan urine  akan terus bermigrasi melalui membran menuju area tes yang berisi anti cannabis dan konjugat dimana karena sudah tidak ada cannabis bebas maka pada area tes tidak akan terjadi reaksi sehingga tidak timbul garis berwarna.
Jika tidak terdapat cannabis di dalam sampel maka anti cannabis  pada area sampel tidak akan ternetralisasi dan ikut bermigrasi ke area tes sehingga terbentuk ikatan komplek anti cannabis-konjugat yang menimbulkan garis berwarna merah keunguan.
Pada area kontrol terdapat anti cannabis yang akan bereaksi dengan konjugat sehingga terbentuk garis berwarna merah keunguan.
Alat dan bahan  :
-        Sampel urine
-        Pipet tetes
-        Reagen rapid cannabis
Cara kerja   :
a) Buka kemasan rapid tes, simpan di tempat datar.
b) Teteskan 3 tetes urine pada area sampel.
c) Tunggu selama 10 menit, kemudian amati reaksi yang terjadi.
                        Interpretasi hasil  :
                        Negatif   :   jika timbul 2 garis di area tes dan kontrol
                        Positif     :  jika timbul 1 garis di area kontrol saja

3) Morphin
Metoda    :  Rapid
Prinsip    :  Prinsip dasar  adalah immunoassay chromatography dengan ikatan kompetensi. Morphin yang terdapat pada sampel urine akan bereaksi dengan anti morphin pada area sampel dan terjadi netralisasi. Cairan urine  akan terus bermigrasi melalui membran menuju area tes yang berisi anti morphin dan konjugat dimana karena sudah tidak ada morphin bebas maka pada area tes tidak akan terjadi reaksi sehingga tidak timbul garis berwarna.
Jika tidak terdapat morphin di dalam sampel maka anti morphin pada area sampel tidak akan ternetralisasi dan ikut bermigrasi ke area tes sehingga terbentuk ikatan komplek anti morphin-konjugat yang menimbulkan garis berwarna merah keunguan.
Pada area kontrol terdapat anti morphin yang akan bereaksi dengan konjugat sehingga terbentuk garis berwarna merah keunguan.
Alat dan bahan  :
-        Sampel urine
-        Pipet tetes
-        Reagen rapid morphin
Cara kerja   :
a) Buka kemasan rapid tes, simpan di tempat datar.
b) Teteskan 3 tetes urine pada area sampel.
c) Tunggu selama 10 menit, kemudian amati reaksi yang terjadi.
Interpretasi hasil  :
                        Negatif   :   jika timbul 2 garis di area tes dan kontrol
                  Positif     :  jika timbul 1 garis di area kontrol saja



f.          Pemeriksaan Faeces
Pemeriksaan faeces terdiri dari :
1)      Pemeriksaan makroskopis, meliputi :
Warna, bau, konsistensi, dan lendir.
2)      Pemeriksaan mikroskopis, meliputi :
Leukosit, eritrosit, amuba, Kristal, amilum, telur cacing.
Prinsip             : Faeces dibuat preparat, kemudian diwarnai dengan eosin 1% dan dilihat dibawah mikroskop.
Alat                 : Mikroskop, objek glass dan deck glass
Bahan              : Faeces, eosin 1%
Cara Kerja       :
a)      Ambil faeces secukupnya keatas objek glass, tambahkan eosin secukupnya dan homogenkan.
b)      Tutup dengan deck glass.
c)      Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 40x.
g.      Pemeriksaan kimia faeces, meliputi :
Pemeriksaan Darah Samar
Metoda        :   Benzidine
Prinsip     :  Hemoglobin  bersifat  sebagai  peroksidase  yang   menguraikan H2O2 menjadi H2O dan On. Kemudian On ini akan mengoksidasi benzidine menjadi berwarna hijau biru.
Alat dan Bahan :
-          Sample faeces
-          Reagen kit  benzidin
Cara Kerja :
1)      Buka kartu pemeriksaan benzidin, ambil sampel faeces kemudian dilekatkan di area A dan B.
2)      Teteskan 2-3 tetes reagen development yang tersedia, tunggu beberapa saat.
3)      Amati reaksi yang terjadi, bandingkan dengan reaksi yang terjadi pada area kontrol.
Interpretasi Hasil :
Negatif                        : tidak terdapat perubahan warna
Positif              : timbul warna yang sama atau lebih tua dari kontrol (hijau  kebiruan)

3.      Pemeriksaan Mikrobiologi
a.      Pemeriksaan Bakteri Tahan Asam
Persiapan         : sampel yang dipergunakan adalah sputum yang baru ditampung dalam botol steril dan diberi label nama pasien dan no pasien. Sampel lain yang biasa diperiksa antara lain cairan pleura.
Metode            : Ziehl-Neelsen
Prinsip             : setelah BTA dipanaskan lapisan lemak akan terbuka dan bakteri akan mengambil warna karbol fuchsin. Pada pencucian lapisan lemak yang terbuka pada waktu dipanaskan akan merapat kembali karena terjadi pendinginan. Sewaktu dituangi dengan asam alkoholwarna merah dari karbol fuchsin pada bakteri tahan asam tidak dilepaskannya. Tetapi bakteri yang tidak tahan asam akan melepaskan warna merah itu sehingga menjadi pucat. Akhirnya pada waktu di cat dengan metilen blue bakteri yang tidak tahan asam akan mengambil warna biru dan bakteri tahan asam akan tetap merah.
Alat                 :
-          Mikroskop
-          Objek glass
-          Ose
-          Bunsen

Bahan              :
-          Sputum
-          Karbol fuchsin
-          Asam alkohol
-          Metilen blue
Cara Kerja       :
1)      Siapkan objek glass yang bersih.
2)      Ambil 1 ose sputum, kemudian dibuat preparat.
3)      Biarkan kering, fiksasi dengan melewatkan beberapa kali di atas api.
4)      Warnai dengan karbol fuchsin 0,3% selama 5 menit, panaskan sampai muncul uap, jangan sampai mendidih.
5)      Buang kelebihannya, tambah asam alkohol 0,1% sampai warna merah hilang.
6)      Tambahkan metilen blue 0,3%  selama 3 menit, buang dan cuci dengan air kran.
7)      Keringkan diudara.
8)      Periksa dibawah mikroskop pada pembesaran lensa objektif 100x dengan menggunakan minyak imersi.
Positif        : Ditemukan Bakteri Tahan Asam yang berwarna merah.
Negatif      : Tidak ditemukan Bakteri Tahan Asam.

b.      Pemeriksaan Bakteri Gram
Persiapan         : sampel yang dipergunakan bisa berasal dari sputum, urine, cairan pleura dan cairan tubuh lainnya yang kemudian ditampung dalam botol steril dan diberi label nama pasien dan nomor pasien.
Metode            : Gram
Prinsip             : Sifat gram ditentukan oleh sifat-sifat fisik dan kimia dinding membran sel dari bakteri. Penambahan kristal violet akan menyebabkan bakteri berwarna ungu. Lugol sebagai pemantek akan menyebabkan warna kristal violet melekat pada bakteri. Penambahan alkohol pada bakteri gram negatif menyebabkan terekstrasinya lipid sehingga membesar daya rembes dinding sel gram negatif, sehingga kompleks kristal violet-iodium yang telah memasuki dinding sel dapat diekstraksi. Karena itu gram negatif kehilangan warna tersebut. Pada gram positif karena kandungan lipidnya lebih rendah penambahan alkohol menyebabkan terdehidrasinya dinding sel bakteri, ukuran pori-pori mengecil, permiabilitas berkurang, dan kompleks kristal violet-iodium tidak dapat terekstraksi sehingga bakteri tetap berwarna ungu. Pada saat pemberian cat penutup (safranin), bakteri gram negatif yang telah kehilangan warna akan mengambil warna merah dari safranin.

Alat                 :
-          Mikroskop
-          Objek glass
-          Ose
-          Bunsen
Bahan              :
-          Sampel
-          Kristal violet
-          Lugol
-          Alkohol 70%
-          Karbon fuchsin
Cara Kerja       :
1)      Buat preparat pada objek glass.
2)      Fiksasi dengan melewati beberapa kali di atas api.
3)      Warnai dengan Kristal violet selama 1 menit.
4)      Cuci dengan air, tambahkan lugol biarkan selama 1 menit.
5)      Cuci dengan air, tambahkan alkohol 70% selama 20 detik.
6)      Cuci dengan air, tambahkan karbol fuchsin selama 20 detik.
7)      Cuci dengan air, biarkan kering di udara.
8)      Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 100x dengan memakai minyak imersi.
Positif        : Ditemukan Bakteri Gram berwarna ungu.
Negatif      : Ditemukan Bakteri berwarna merah.

c.       Preparat Neisser
Metode            : Neisser
Prinsip             : Granula akan terwarnai dan tampak berbeda dari warna badan bakteri.
Alat dan Bahan :
-          Objek glass
-          Ose steril
-          Spirtus
-          Mikroskop
-          Apus tenggorok
-          Neisser A
-          Neisser B
-          Neisser C
Cara Kerja       :
a)      Disiapkan alat dan bahan
b)      Dibuat preparat dari sample dengan menggunakan ose, lalu keringkan.
c)      Difiksasi diatas nyala api.
d)     Simpan diatas tempat pewarnaan.
e)      Diteteskan larutan campuran, 2 bagian Neisser A dan 1 bagian Neisser B selama 10 detik.
f)       Dicuci dengan air mengalir.
g)      Diteteskan dengan Neisser C selama 10 detik
h)      Dikeringkan dengan kertas saring jangan dicuci dengan air.
i)        Diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 x.

Hasil pengamatan            :
Bakteri Difteri badan berwarna kuning dan granula berwarna coklat.
  
4.      Pemeriksaan Parasitologi
Preparat KOH
Metode      : Scraping Kulit
Prinsip       : Kerokan kulit dibuat preparat, kemudian ditambahkan dengan KOH 10% dan dilihat dibawah mikroskop.
Alat           :
-          Scalpel (pisau)
-          Objek glass
-          Deck glass
-          Mikroskop
Bahan        :
-          Kerokan kulit
-          Kapas alkohol
-          KOH 10%
Cara kerja  :
1)   Siapkan pisau steril (scalpel) dan objek glass.
2)   Pilih daerah yang akan dikerok kemudian lakukan pengerokan pada daerah tersebut.
3)   Tampung kerokan kulit pada objek glass.
4)   Kemudian tetesi dengan KOH 10% dan tutup dengan deck glass.
5)   Amati pada mikroskop dengan pembesaran 40x.
  
5.      Pemeriksaa Imunologi dan serologi
a.      Pemeriksaan Widal
Metode            : Slide
Prinsip             : Antigen + antibodi                Aglutinasi
Alat                 : Slide, pengaduk
Bahan              : Antisera S.typhi O, S.paratyphi AO, S.paratyphi BO, S.paratyphi CO, S.typhi H, S.paratyphi AH, S.paratyphi BH, S.paratyphi CH dan serum.
Cara Kerja       :
1)      Siapkan porselin, teteskan masing-masing antisera S.typhi O, S.paratyphi AO, S.paratyphi BO, S.paratyphi CO, S.typhi H, S.paratyphi AH, S.paratyphi BH, S.paratyphi CH diatasnya.
2)      Tambahkan satu tetes serum diatasnya.
3)      Campurkan dan homogenkan dengan pengaduk.
4)      Goyangkan selama 1 menit.
5)      Baca hasilnya, ada atau tidaknya aglutinasi.

b.      Pemeriksaan IgG dan IgM DHF
Metode            :  Rapid
Prinsip             : Human IgG dan IgM spesifik terikat pada protein-protein yang tidak bergerak dalam membran intra seluler yang terletak pada dua test garis individu (garis IgG dan IgM) dalam daerah test (T) dari alat uji. Garis IgM dalam daerah tes (T) adalah penutup dari lubang sampel dan diikuti oleh garis IgG dalam daerah tes. Protein virus dengue yang dikombinasikan dengan kemurnian tinggi adalah konjugat koloid partikel-partikel emas dalam patogen sampel. Serum sampel ditambahkan pada sumur sampel dari alat, antibody-antibodi (IgG dan IgM) dari virus dengue, jika terdapat dalam sampel akan membentuk kompleks warna garis tes IgM atau IgG. Salah satu tempat dalam daerah garis control (C) terlihat ketika tes telah terbentuk dengan tepat, tanpa memperhatikan ada tidaknya antibody anti virus dengue dalam sampel.
Cara Kerja       :
1)      Ambil Rapid Test Dengue letakan diatas meja.
2)      Gunakan pipet yang tersedia untuk menambahkan 5µl serum atau plasma sampel pada bagian tengah sumur sampel (S).
3)      Tambahkan 3 tetes atau lebih buffer pencuci dalam sumur sampel.
4)      Tunggu selama 5 – 10 menit.
5)      Jika latar belakang membrane darah tes masih kemerah-merahan tambahkan 2 tetes atau lebih buffer pencuci pada sumur sampel (S) untuk membersihkan latar belakang membrane.
Catatan Penting :
Jangan pernah menambahkan lebih banyak sampel dalam daerah tes, lebih banyak sampel akan mempengaruhi hasil tes. Hasil tes mungkin dibaca segera 5 – 10 menit untuk reaksi spesifik IgG. Untuk IgM boleh selama 20 menit, karena titer IgM antibody yang rendah. Kadang-kadang garis positif IgM biasanya sangat terang atau lemah dari garis positif IgG, jika ada.
Interpretasi Hasil :
Ø Hasil Positif     :
·           dua garis merah muda keunguan pada daerah tes (G dan M) serta satu garis pada daerah kontrol (C) menandakan adanya antibodi IgG dan IgM spesifik yang melawan virus dengue.
·         satu garis merah muda keunguan pada daerah tes (M) serta satu garis pada daerah control (C) menandakan adanya antibodi IgM spesifik melawan virus dengue.
·         satu garis merah muda keunguan pada daerah tes (G) serta satu garis pada daerah control (C) menandakan adanya antibodi spesifik IgG melawan virus dengue.
Ø Hasil Negatif   :
satu garis berwarna merah muda keunguan pada daerah kontrol (C) menandakan tidak adanya antibodi spesifik yang melawan virus dengue atau jumlah antibodi di bawah tingkat sensitivitas pengujian.
Ø  Hasil Invalid (gagal):
Jika setelah 20 menit tidak ada garis yang nampak dalam daerah tes atau kontrol, maka hasil invalid. Prosedur yang sudah diikuti tidak benar atau telah terjadi kerusakan pada alat. Tes harus diulang dengan alat baru.

c.       HBsAg
Metod:   ELISA
Prinsip   : HBsAg ELISA merupakan pemeriksaan berdasarkan metoda sandwich immunoassay. Antibodi monoklonal spesifik terhadap HBsAg dilekatkan pada well sample kemudian serum sampel yang mengandung HBsAg ditambahkan sehingga terbentuk ikatan antigen-antibodi, selanjutnya ditambahkan anti HBs yang dilabel konjugat peroksidase sehingga terbentuk ikatan komplek dan melepaskan peroksida yang bereaksi dengan chromogen membentuk senyawa berwarna biru yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi HbsAg dalam sampel. Reaksi dihentikan dengan penambahan asam sulfat sebagai stop solution sehingga warna berubah menjadi kuning yang dibaca absorbannya dengan alat ELISA Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Alat dan bahan  :
§  Inkubator
§  ELISA Plate reader
§  Mikropipet 1000 µl, 100 µl dan 50 µl
§  Rak well  beserta penutupnya
§  Reagen kit HbsAg
§  Tip kuning
§  Washing solution
§  Sampel (serum)
Cara Kerja :
a)      Reagen disimpan pada suhu ruangan sehingga suhunya sesuai dengan suhu ruangan.
b)      Dipipet 50 µl serum , kontrol negatif dan kontrol positif ke dalam masing-masing well.
c)      Ditambahkan 50 µl anti HBs peroksidase (enzim konjugat) pada masing-masing well.
d)     Dicampurkan homogen kemudian inkubasi selama 80 menit pada suhu 370C.
e)      Dicuci 6 kali dengan wash buffer.
f)       Ditambahkan 50 µl substrat solution A dan 50 µl substrat solution B, pada masing-masing well, dicampur homogen dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu ruangan.
g)      Ditambahkan pada masing-masing well 100 µl stop solution. Dibaca dengan ELISA Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Interpretasi Hasil :
-       Positif    :  > Cut Off
-       Negatif  :  < Cut Off
Catatan : Cut Off = 0,250 + Absorban Kontrol Negatif
d.      HbsAg Metoda Rapid
Prinsip       : HBsAg  dalam sampel akan berikatan dengan anti HBs colloidal gold konjugat membentuk komplek yang akan bergerak melalui membran area tes yang telah dilapisi oleh anti HBs. Kemudian terjadi reaksi membentuk garis berwarna merah muda keunguan yang menunjukkan hasil positif.  
Alat dan bahan  :
§  Reagen rapid tes HbsAg
§  Mikropipet 100 µl
§  Sampel (serum)
Cara Kerja :
a)    Disiapkan rapid tes, simpan pada permukaan mendatar
b)   Tambahkan 3 tetes atau 100 µl serum pada well sampel
c)    Ditunggu reaksi yang terjadi, hasil dibaca tidak lebih dari 20 menit.
Interpretasi Hasil :
§  Positif    :  jika terdapat garis pada bagian kontrol dan tes.
§  Negatif  :  jika terdapat garis pada bagian kontrol saja.
Selain menggunakan alat diatas, untuk pemeriksaan HbsAg bisa menggunakan alat Mini Vidas yaitu :
1)      Klik menu utama
2)      Pilih Status Screen
3)      Pilih section yang dikehendaki (A atau B)
4)      Letakan reagen strip dan SPR pada section yang dikehendaki A atau B (misal section A)
5)      ***pilih posisi yang dikehendaki, misal A1 (dengan menekan tombol 1 pada keypad)
6)      Pilih sampel ID
7)      Masukan identitas sampel (maksimal 12 angka/huruf), tekan enter
8)      Lakukan hal yang sama (mulai tanda ***), untuk posisi A2 s/d A6
9)      Setelah selesai, tekan Previous Screen
10)  Pilih User ID
11)  Tekan tombol Start

e.       Anti HBs
Metoda      :  Rapid
Prinsip       : Anti HBs  dalam sampel akan berikatan dengan HbsAg yang dilabel dengan partikel colloidal gold konjugat membentuk komplek yang akan bergerak melalui membran area tes yang telah dilapisi oleh HBsAg. Kemudian terjadi reaksi membentuk garis berwarna merah muda keunguan yang menunjukkan hasil positif.  
Alat dan bahan  :
§  Reagen rapid anti HBs
§  Micropipet 100 µl
§  Sampel (serum)
Cara Kerja :
a)      Disiapkan rapid tes, simpan pada permukaan mendatar.
b)      Tambahkan 3 tetes atau 100 µl serum pada well sampel.
c)      Ditunggu reaksi yang terjadi, hasil dibaca tidak lebih dari 20 menit.
Interpretasi Hasil :
§   Positif    :  jika terdapat 2 garis pada bagian kontrol dan tes.
§   Negatif  :  jika terdapat 1 garis pada bagian kontrol saja.
f.       IgM anti HBc
Metoda      :  ELISA
Prinsip       : Hepalisa IgM anti HBc tes berdasarkan pada metoda sandwich immunoassay. Ketika anti human IgM yang direkatkan pada well sample diinkubasi dengan spesimen yang diencerkan, pada fase padat akan mengendap sejumlah IgM yang selanjutnya diinkubasi dengan hepatitis B Viral solution dan anti HBc peroksidase solution, membentuk ikatan komplek dan melepaskan peroksida yang bereaksi dengan chromogen membentuk senyawa berwarna biru yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi IgM anti HBc dalam sampel. Reaksi dihentikan dengan penambahan asam sulfat sebagai stop solution sehingga warna berubah menjadi kuning yang dibaca absorbannya dengan alat ELISA Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Alat dan bahan  :
§  Inkubator
§  ELISA Plate reader
§  Mikropipet 1000 µl, 500 µl, 100 µl, 50 µl dan 5µl
§  Rak well  beserta penutupnya
§  Reagen kit IgM anti HBc
§  Tip kuning
§  Washing solution
§  Sampel (serum)
Cara Kerja :
a)    Dilakukan pengenceran : 5 µl serum + 500 µl spesimen diluent.
b)   Dimasukkan dalam well
·         100 µl kontrol positif
·         100 µl kontrol negatif
·         100 µl sampel yang sudah diencerkan
c)    Ditutup, inkubasi selama 1 jam pada suhu 370C.
d)   Dicuci sebanyak 6 kali dengan menggunakan washing.
e)    Ditambah 50 µl HBc Reagen.
f)    Ditambahkan 50 µl HBc peroksidase.
g)   Ditutup, kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C, kemudian dicuci kembali sebanyak 6 kali.
h)   Ditambahkan 50 µl HBc TMB A.
i)     Ditambahkan 50 µl HBc TMB B.
j)     Ditutup dan disimpan dalam suhu kamar selama 30 menit.
k)   Ditambahkan 100 µl H2SO4 2N.
l)     Dibaca dengan Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Perhitungan :
            NCx = rata-rata absorban negatif kontrol
            NCx harus < 0,1               Validasi
            PCx = rata-rata absorban positif kontrol
            PCx harus > 0,4                 Validasi
            PCx – NCx = P – N value harus > 0,3                 Validasi
            Cut off value = NCx + 0,25 PCx
Interpretasi Hasil :
Hasil Negatif   :  absorban < Cut off
Hasil Positif    :  absorban > Cut off

g.      IgM anti HAV
Metoda      : ELISA
Prinsip       : Hepalisa IgM anti HAV tes berdasarkan pada metoda sandwich immunoassay. Ketika anti human IgM yang direkatkan pada well sample diinkubasi dengan spesimen yang diencerkan, pada fase padat akan mengendap sejumlah IgM yang selanjutnya diinkubasi dengan hepatitis A Viral solution dan anti HAV peroksidase solution, membentuk ikatan komplek dan melepaskan peroksida yang bereaksi dengan chromogen membentuk senyawa berwarna biru yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi IgM anti HAV dalam sampel. Reaksi dihentikan dengan penambahan asam sulfat sebagai stop solution sehingga warna berubah menjadi kuning yang dibaca absorbannya dengan alat ELISA Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Alat dan bahan   :
-          Inkubator
-          ELISA Plate reader
-          Mikropipet 1000 µl, 500 µl, 100 µl, 50 µl dan 5µl
-          Rak well  beserta penutupnya
-          Reagen kit IgM anti HAV
-          Tip kuning
-          Washing solution
-          Sampel (serum)
Cara Kerja :
a)         Dilakukan pengenceran : 10 µl  serum + 1000 µl NaCl 0,85 %.
b)         Dimasukkan kedalam well :
-          100 µl kontrol positif
-          100 µl kontrol negatif
-          100 µl sampel yang sudah diencerkan
-          Ditutup, inkubasi selama 1 jam pada  suhu 370C.
c)         Dicuci sebanyak 6 kali.
d)        Ditambahkan 50 µl HAV solution.
e)         Ditambahkan 50 µl HAV peroksidase.
f)          Ditutup, kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C.
g)         Ditambahkan 50 µl anti TMB A dan 50 µl TMB B.
h)         Ditutup dan disimpan selama 30 menit pada suhu kamar.
i)           Ditambahkan 100 µl H2SO4 2N.
j)           Dibaca dengan Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm
Cut Off  : Absorban negatif + 0,250
Interpretasi Hasil :
Ø  Negatif   : absorban < Cut Off
Ø  Positif     : absorban > Cut Off

h.      IgG DHF
Metoda     :  ELISA
Prinsip      :IgG DHF yang terdapat pada sampel akan berikatan dengan anti human IgG yang dilekatkan pada well sample. Kemudian ditambahkan HRP konjugat monoclonal antibodi (Mab) sehingga terbentuk senyawa komplek dan melepaskan peroksida yang bereaksi dengan chromogen membentuk senyawa berwarna biru yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi IgG DHF dalam sampel. Reaksi dihentikan dengan penambahan asam sulfat sebagai stop solution sehingga warna berubah menjadi kuning yang dibaca absorbannya dengan alat ELISA Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Alat dan bahan  :
-          Inkubator
-          ELISA Plate reader
-          Mikropipet 1000 µl, 500 µl, 100 µl, 50 µl dan 5µl
-          Rak well  beserta penutupnya
-          Reagen kit IgG DHF
-          Tip kuning
-          Washing solution
-          Sampel (serum)
Cara Kerja :
a)         Dipipet 1000 µl serum diluent dan 10 µl sampel serum, kontrol negatif, kontrol positif, calibrator  kedalam tabung reaksi.
b)        Dikocok sampai homogen.
c)         Dipipet 100 µl campuran tersebut dimasukkan ke dalam masing-masing sumur well.
d)        Diinkubasi selama 30 menit pada suhu  370C.
e)         Dicuci masing-masing dengan larutan pencuci sebanyak 6 kali.
f)         Ditambahkan 100 µl enzim konjugat IgG.
g)        Diinkubasi selama 30 menit pada suhu 370C, kemudian dicuci 6 kali.
h)        Ditambahkan 100 µl TMB pada masing-masing well.
i)          Diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruangan.
j)          Ditambahkan 100 µl H2SO4 2N.
k)        Dibaca absorban dengan ELISA Reader.
Perhitungan :
Cut off (CO) = Absorban calibrator x faktor (0,62)
Interpretasi hasil  :
- Negatif   : jika absorban < Cut off
- Positif    : jika absorban > Cut off
i. IgM DHF
Metoda     : ELISA
Prinsip      : IgM DHF yang terdapat pada sampel akan berikatan dengan anti human IgM yang dilekatkan pada well sample. Kemudian ditambahkan HRP konjugat monoclonal antibodi (Mab) sehingga terbentuk senyawa komplek dan melepaskan peroksida yang bereaksi dengan chromogen membentuk senyawa berwarna biru yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi IgM DHF dalam sampel. Reaksi dihentikan dengan penambahan asam sulfat sebagai stop solution sehingga warna berubah menjadi kuning yang dibaca absorbannya dengan alat ELISA Plate Reader pada λ 450 nm dan 620 nm.
Alat dan bahan  :
-          Inkubator
-          ELISA Plate reader
-          Mikropipet 1000 µl, 500 µl, 100 µl, 50 µl dan 5µl
-          Rak well  beserta penutupnya
-          Reagen kit IgM DHF
-          Tip kuning
-          Washing solution
-          Sampel (serum)
Cara Kerja       :
a)        Dipipet 1000 µl serum diluent dan 10 µl sampel serum, kontrol negatif, kontrol positif dan calibrator  ke dalam tabung reaksi.
b)        Dikocok sampai homogen.
c)        Dipipet 100 µl campuran tersebut dimasukkan ke dalam masing-masing  sumur well.
d)       Diinkubasi selama 1 jam pada suhu  370C.
e)        Dicuci masing-masing dengan larutan pencuci sebanyak 6 kali.
f)         Ditambahkan 100 µl enzim konjugat IgM.
g)        Diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C, kemudian dicuci 6 kali.
h)        Ditambahkan 100 µl TMB pada masing-masing well.
i)          Diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruangan.
j)          Ditambahkan 100 µl H2SO4 2N.
k)        Dibaca absorban dengan ELISA Reader.
Perhitungan :
Cut off (CO) = Absorban calibrator x faktor (0,62)
Interpretasi hasil :
Negatif  : jika absorban < Cut off
Positif    : jika absorban > Cut off



i.        NS1 Antigen
Metoda  :  Rapid lateral flow immunochromatography
                     Prinsip   :  NS1 antigen akan membentuk komplek dengan partikel gold colloidal yang dilapisi anti NS1 pada area sampel. Setelah terjadi migrasi pada strip maka komplek tersebut akan ditangkap oleh anti NS1 di area tes membentuk ikatan yang menimbulkan garis berwarna keunguan.
Alat dan bahan :
-          Sampel ( serum, plasma)
-          Reagen rapid NS1
-          Mikropipet 50 µl
-          Tip kuning
-          Tabung reaksi
Cara kerja  :
a)    Siapkan tabung reaksi kecil.
b)   Isi dengan 50 µl sampel.
c)    Masukkan strip reagen secara vertikal dan tunggu selama 15 menit.
d)   Amati reaksi yang terjadi.
Interpretasi hasil :
Negatif   : jika hanya terdapat 1 garis di area kontrol
Positif     : jika terdapat 2 garis di area tes dan kontrol
j.        IgM Anti Salmonella
Cara Kerja       :
1)      Letakan reaction well strip tegak lurus diatas meja.
2)      Pipet 40µl TUBEX TF Browen reagen ke semua wells.
3)      Pipetkan 40µl TUBEX TF Control positif dan control negative serta serum pasien langsung dicampur dengan menggerakan pipet naik turun 10 kali. Gunakan pipet baru untuk setiap sampel kemudian inkubasi 2 menit.
4)      Pipetkan 80µl Blue reagen TUBEX TF ke semua well. Tutup reaction well strip dengan sealing tape.
5)      Miringkan 90˚ dan kocok maju mundur selama 2 menit.
6)      Letakan well strip diatas skala magnetic 5 menit.
7)      Baca hasil pengujian dalam waktu 30 menit.
Interpretasi Hasil   :
-          ≤ 2       = Negatif
-          3          = Borderline
-          4 - 5     = Positif
6 - 10   = Positif kuat






Referensi :

1 komentar: